Pada akhir abad ke-18 munculah setipe 'perahu-kapal' baru yang dalam rekaman syahbandar dan administrasi pemerintahan kolonial dicatat dengan istilah toop. Menurut seorang pengamat pelayaran Nusantara pertengahan abad ke-19 tipe ini “pada umumnya [digunakan] untuk pelayaran jarak jauh” dan menunjukkan “paling banyak kesamaan dengan rancang bangun Eropa”: Buritan sekian banyak toop itu bersegi-empat, dan bentuk lambungnya pun lebih mirip dengan kapal-kapal layar Eropa daripada perahu Nusantara. “Sebagian besar” dari perahu ini dibuat dengan “mengikuti cara yang sama” dengan yang digunakan untuk membangun “kapal laut lepas Eropa”, yaitu 'melapisi' gading-gading yang didirikan di atas lunas dengan papan. Layarnya pun “paling efisien di antara semua tipe perahu besar” masa itu, sehingga pada pertengahan pertama abad ke-19 tipe perahu inilah tercatat sebagai yang paling umum digunakan oleh pelaut-saudagar seantero Nusantara.
Bertiang dua sampai tiga, perahu tipe itu “pada tiang agung dan tiang haluan membawa dua layar serupa yang berbentuk trapezoid”; layar-layar ini diatur sedemikian rupanya agar sebuah toop dapat “membalik haluan ke arah angin tanpa menurunkan dan memindahkan [layarnya] ke sebelah bawah angin baru, suatu hal yang sangat menguntungkan jika beropal-opal di tempat sempit”. Tiang buritannya dilengkapi dengan layar fore-and-aft gaya Eropa, dan, bila ada, pada cucurnya terpasang “tiga atau empat layar topan berukuran kecil”. Tiang-tiangnya pun tidak terdiri atas dua-tiga batang, tetapi sebatang tunggal saja yang diperkuat dengan tali tambera dan laberang yang serupa dengan pola pemasangan tiang Eropa.
Dalam ilustrasi dan deskripsi yang tersedia tergambar berbagai variasi lambung perahu toop: Ada yang memang berlambung tipe Eropa, dengan buritan segi empat dan kemudi tengah; ada pun yang haluannya berteladan pada kapal-kapal layar 'Barat' sezamannya, tetapi memakai kemudi samping dan geladak buritan yang mengingat akan tipe padewakang. Keanekaragaman bentuk lambung ini memberi kesan bahwa kata 'toop' sebenarnya menandai jenis layarnya, suatu kombinasi layar fore-and-aft 'Barat' dan dua layar segi-empat meninggi yang sepertinya merupakan suatu variasi layar jenis tanja.
Berdasarkan catatan kesyahbandaran masa itu maka kebanyakan perahu toop yang bisa berukuran sampai 200 ton muatan ini dimiliki pedagang asal bagian barat Nusantara dan beroperasi antara Selat Malaka dan Jawa. Akan tetapi, ada pun "prauuw-toop yang sangat disukai oleh orang Bugis [...]. Kendaraan laut ini berbentuk seperti perahu padewakang, tetapi memakai dua sampai tiga tiang yang tali-temalinya lebih bergaya Eropa, dengan membawa sejenis layar sprit. Perahu-perahu itu pada umumnya lebih besar daripada padewakang, dan digunakan untuk berdagang saja." (4, hlm. 364).