Pada suatu saat pertengahan abad ke-20 bentuk perahu palari mulai berubah: Perahu-perahu itu tidak lagi dibangun dengan meninggikan sebuah lambung pajala, tetapi dari awal dibuat setinggi maunya sang pemesan. Dengan itu, geladak rendah haluan salompong yang telah menjadi salah satu ciri khas perahu tipe padewakang dan palari itu menghilang; dan serambi geladak belakang, ambeng, tidak lagi 'bertingkat memanjang' ke atas buritan lambung seperti yang terdapat pada kedua jenis perahu itu. Lambung baru ini dinamakan jonggolang – dan bila dilengkapi dengan tali-temali sekunar Sulawesi maka tipe perahu itu mulai dijuluki dengan nama tipe layarnya, 'pinisi'.
'Nama baru' sekunar Sulawesi ini tidak langsung menyebar dengannya: Di, misalnya, Singapura, salah satu tujuan utama pelaut Sulawesi masa itu, kata 'pinisi' sebagai julukan atas 'perahu Bugis' baru muncul pada tahun 1986 dalam berita-berita koran akan pelayaran Pinisi Nusantara ke Vancouver – semua pemberitaan sebelumnya menyebutkan perahu-perahu Sulawesi yang meramaikan pelabuhannya itu sebagai palari.
Bagaimana pun, khalayak ramai Indonesia sudah mengenali pinisi, selambat-lambatnya, sejak 1960: